KENDARI, WHITEBALANCE.ID – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan talenta muda asal Kabupaten Konawe, Ayesha Balqis Shafiyyah Chandra, dalam ajang Pemilihan Duta Pariwisata Cilik dan Remaja Sulawesi Tenggara 2026.
Dalam kompetisi yang berlangsung di Kota Kendari pada 4–6 Agustus 2026, Ayesha sukses membawa pulang dua penghargaan bergengsi sekaligus, yakni Pemenang Icon I Kids Icon Wastra 2026 dan Kids Best Popularity 2026, setelah meraih dukungan suara atau vote tertinggi dari masyarakat.
Prestasi tersebut menjadi semakin istimewa karena perjuangan Ayesha tidak berjalan mulus. Di tengah rangkaian kegiatan pada hari pertama, Ayesha sempat mengalami kelelahan hingga harus mendapatkan perawatan di IGD RS Abunawas Kota Kendari.
Namun kondisi tersebut tidak memadamkan semangatnya untuk kembali melanjutkan perjuangan hingga malam puncak.
Sejak mengikuti masa karantina hingga tahapan kompetisi, Ayesha tampil membawa semangat memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Sulawesi Tenggara.
Pada sesi unjuk bakat, Ayesha membawakan Tari Mondotambe, salah satu tarian tradisional masyarakat Tolaki yang dikenal sebagai tari penyambutan tamu.
Dengan gerakan yang anggun, ekspresif dan penuh penghayatan, Ayesha berusaha menghadirkan pesan tentang keramahan masyarakat Sulawesi Tenggara kepada para juri dan penonton.
Penampilannya tersebut menjadi salah satu kekuatan yang memperlihatkan bahwa usia muda bukan menjadi penghalang untuk mengenal sekaligus mempromosikan budaya daerah.
Tidak berhenti pada seni tari, kemampuan Ayesha juga diuji melalui sesi presentasi materi mengenai Kue Kinowu, salah satu kuliner tradisional berbahan dasar beras ketan.
Ayesha tidak hanya menjelaskan makanan tersebut sebagai kuliner tradisional, tetapi juga mengangkat nilai budaya, proses pembuatan hingga peluang pengembangannya sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan daya tarik wisata Sulawesi Tenggara.
Perpaduan antara kemampuan seni, penguasaan materi, komunikasi dan keberanian tampil di hadapan publik akhirnya mengantarkan Ayesha meraih gelar Icon I Kids Icon Wastra 2026.
Sementara dukungan masyarakat yang begitu besar mengantarkannya menjadi peserta dengan perolehan vote tertinggi dan meraih penghargaan Kids Best Popularity 2026.
Di balik dua penghargaan tersebut terdapat perjuangan yang tidak ringan.
Ayah Ayesha, Chandra Patrick Leonard, mengungkapkan bahwa pada hari pertama rangkaian kegiatan, putrinya sempat mengalami kelelahan dan harus mendapatkan penanganan medis.
Menurutnya, kondisi tersebut sempat membuat keluarga khawatir. Namun Ayesha menunjukkan semangat luar biasa untuk kembali mengikuti rangkaian kegiatan.
“Sebagai orang tua tentu kami sangat khawatir ketika Ayesha harus mendapatkan perawatan di IGD karena kelelahan. Tetapi setelah kondisinya membaik, dia tetap menunjukkan semangat untuk melanjutkan kompetisi. Bagi kami, keberanian dan perjuangannya itu sudah menjadi prestasi tersendiri,” ujar Chandra Patrick Leonard.
Chandra mengatakan, pencapaian dua penghargaan yang diraih Ayesha bukan semata-mata tentang kemenangan, tetapi menjadi pengalaman berharga bagi putrinya untuk belajar disiplin, percaya diri, mencintai budaya serta berani membawa nama daerah.
“Kami selalu mengingatkan Ayesha bahwa yang paling penting bukan hanya menang, tetapi bagaimana dia bisa membawa nama baik keluarga dan daerah, mencintai budaya sendiri dan memberikan inspirasi kepada anak-anak lainnya,” katanya.
Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Ayesha mengikuti ajang tersebut.
Sang nenek, Puspa Eka Misnan, SE., M.Si., mengaku bangga sekaligus terharu melihat perjuangan cucunya hingga mampu meraih dua penghargaan.
Menurutnya, apa yang diraih Ayesha merupakan hasil dari keberanian, kerja keras, dukungan keluarga dan kecintaannya terhadap seni budaya daerah.
“Kami sangat bersyukur dan bangga. Ayesha masih sangat muda, tetapi dia sudah berani tampil membawa budaya daerah. Ketika dia membawakan Tari Mondotambe dan mempresentasikan Kue Kinowu, kami melihat bahwa dia bukan hanya sedang mengikuti lomba, tetapi sedang belajar mencintai dan memperkenalkan budaya daerahnya,” ungkap Puspa.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat membentuk karakter Ayesha agar semakin percaya diri, rendah hati dan terus mengembangkan potensi yang dimilikinya.
“Harapan kami, prestasi ini jangan membuat Ayesha cepat puas. Justru harus menjadi motivasi untuk terus belajar, menjaga sikap, mencintai budaya dan menjadi anak yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain,” tambahnya.
General Director Duta Pariwisata Sulawesi Tenggara, Febriansyah, memberikan apresiasi terhadap capaian Ayesha dalam ajang tahun 2026.
Menurutnya, Pemilihan Duta Pariwisata Cilik dan Remaja Sulawesi Tenggara bukan sekadar kompetisi untuk mencari pemenang, tetapi menjadi ruang pembinaan generasi muda agar memiliki wawasan tentang pariwisata, budaya, seni dan ekonomi kreatif.
“Yang kami cari bukan hanya anak yang mampu tampil di atas panggung. Kami ingin melihat bagaimana mereka memahami potensi daerahnya, memiliki rasa percaya diri, mampu berkomunikasi dan yang paling penting mempunyai kepedulian terhadap pariwisata dan budaya Sulawesi Tenggara,” jelas Febriansyah.
Ia menilai Ayesha menunjukkan sejumlah kemampuan yang menjadi nilai penting dalam ajang tersebut, mulai dari penampilan seni, kemampuan presentasi, penguasaan materi hingga dukungan publik.
“Ayesha menunjukkan bahwa anak-anak kita memiliki potensi yang luar biasa. Dia mampu membawa Tari Mondotambe, kemudian mengangkat Kue Kinowu sebagai bagian dari potensi kuliner daerah. Ini yang kami harapkan, bagaimana generasi muda bisa menjadi bagian dari promosi pariwisata dan budaya Sulawesi Tenggara,” ujarnya.
Febriansyah juga menegaskan bahwa penghargaan yang diraih Ayesha membawa konsekuensi berupa tanggung jawab untuk terus menjaga nama baik dan ikut mempromosikan potensi daerah.
“Gelar ini bukan akhir dari perjalanan. Justru setelah mendapatkan penghargaan, ada tanggung jawab yang lebih besar. Mereka harus menjadi contoh dan ikut mengajak generasi muda untuk mencintai pariwisata, seni dan budaya daerah,” tegasnya.
Keberhasilan Ayesha meraih Icon I Kids Icon Wastra 2026 dan Kids Best Popularity 2026 menjadi catatan tersendiri dalam ajang Duta Pariwisata Sulawesi Tenggara tahun ini.
Prestasi tersebut juga memperlihatkan bahwa kekayaan budaya lokal dapat menjadi kekuatan dalam membangun karakter generasi muda sekaligus memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Tari Mondotambe yang dibawakan Ayesha menjadi representasi seni tradisional, sementara Kue Kinowu yang dipresentasikannya menunjukkan bahwa kuliner lokal memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi kreatif dan daya tarik wisata.
Bagi Ayesha, panggung Duta Pariwisata bukan sekadar tempat untuk mengejar gelar.
Lebih dari itu, panggung tersebut menjadi ruang untuk belajar, berani tampil, mengenal akar budaya dan memperkenalkan kekayaan Sulawesi Tenggara kepada publik.
Dengan dua penghargaan yang berhasil dibawanya pulang, Ayesha Balqis Shafiyyah Chandra kini memiliki tanggung jawab baru sebagai salah satu generasi muda yang diharapkan ikut menjadi wajah promosi pariwisata, seni budaya dan ekonomi kreatif Sulawesi Tenggara.
Dari panggung Kendari, Ayesha membuktikan satu hal: usia boleh muda, tetapi semangat menjaga dan memperkenalkan budaya daerah bisa menjadi luar biasa






Tidak ada Respon